Saya Naik Gunung Dempo

Begini-begini saya sudah pernah loh nyicipin naik gunung, dan gunung pertama yang saya naikin adalah gunung Dempo yang terletak di kota Pagar Alam Sumatera Selatan. Gunung Dempo itu sendiri adalah gunung tertinggi kedua di pulau sumatera setelah gunung Kerinci…untuk lebih jelas bisa dilihat disini.
Semuanya ini bisa terjadi disebabkan oleh novel 5cm karangan Dhony Dirgantoro yang saya baca…buku yang best seller ini menceritakan tentang betapa dahsyat rasanya ketika naik gunung (di buku itu Gunung Semere), nah dari itu saya pengen sekali naik gunung dan akhirnya bisa saya wujudkan ketika saya SMA kelas 3 sewaktu SMA dua tahun yang lalu.

Untuk naik gunung saya harus merelakan untuk tidak mengikuti dengan selesai perpisahan SMA, ini dikarenakan saya harus menyiapkan keperluan untuk naik gunung yang belum lengkap….memang meyedihkan tapi bukannya hidup itu adalah pilihan (ceilah). Naik gunung ini sebenarnya diadakan untuk merayakan perpisahan kelas kami kelas 3 SMA sewaktu itu, dan para pejantan tangguhnya sudah mengiyakan untuk ikut semua, tapi sebelum naik gunung 15 orang pejantan tangguh tersebut berkurang menjadi hanya 8 orang, loh kok bisa begitu…ini dikarenakan banyak teman-teman saya yang lain harus kalah sebelum bertarung dengan berbagai macam alasan, dan alasan tersbut dilatarbelakangi oleh ketakutan.

Keberangkatan yang dimulai dari rumah saya tersebut akhirnya hanya akan dilakukan delapan orang saja termasuk saya tentunya dengan hanya satu orang saja yang menjadi leadernya, dikarenakan cuma dia yang udah pernah naik gunung Dempo, yang lainnya cuma tau gunung kembar semua (wew). Dengan 7 tas Carier yang berisikan logistik, baju, kompor, dan lain2 kamipun berangkat, saya dan ketujuh teman saya harus menempuh perjalanan darat sekitar 8 jam untuk sampai di kota pagar alam yang dingin dan juga kota produksi teh berkualitas tinggi tersebut.

Saya dan teman-teman menginap dulu di tempat emak (ini rumah orang pagar alam yang bisa digunakan oleh para pendaki untuk beristirahat ataupun menginap). Kami disini beristirahat dan tidur terlebih dahulu sebelum besok pagi-pagi sekali harus muncak. Subuh tiba saya dan teman-temanpun berangkat..semangat banget tuh saya, sampe semangatnya saya yang minta bawa carier duluan. Tapi hanya beberapa saat naik dan itupun baru menaiki kebun teh kami sempat berfoto dulu (buset dah…), ditempat kami berfoto itupun saya diperlihatkan teman saya secara langsung gunung yang bakal saya naikin nanti…dan…Subhanallah tinggi banget coy, dan saya berfikir apa bisa tuh gunung saya naikin (kalo gunung kembar mah enak ding…) dari sana mental saya jadi agak ciut dengan ditandai muka memerah, keluar keringat dingin dan sedikit mules. Saya tetap semangat dan langsung memaggul tas carier yang kurang lebih seberat 70 kg (perhatian-perhatian berat carier yang saya bawa lebih berat dari badan saya yang hanya 55 kilogram), dan tak berapa lama saya menyuruh teman saya untuk gantian membawanya.

3 Jam dari awal kami start naik gunung kami baru sampai di K4 aka. kampung empat, disana saya disuruh teman saya membeli kol dari pemilik kebun kol di kampung tersebut (lumayan buat tambah2 logistik). Perjalanan pun dilanjutkan sampai di pos resort gunung dempo, disana terdapat sungai yang kami manfaatkan untuk cuci  muka dan mengambil persediaan air. Sewaktu tangan saya masuk ke air…brrrrrrrr…waccaw buset dah dingin banget, kalo mau digambarkan dinginnya itu kayak es batu  yang nggak cair, tapi nikmat banget, airnya bening dan segar sampe2 segala merk air mineral kalah dah pokoknya. Di resort nyempetin juga foto rame-rame biar nggak hoak ini buktinya…


Kurang lebih 4  setengah jam kami sampai di pintu rimba dan dari sinipun kami harus saling menjaga, menuruti segala peraturan yang ada dan terakhir jangan sampe bengong karna akan berakibat fatal. Setelah masuk pintu rimba ini kami tidak boleh memanggil satu sama lain dengan panggilan nama sebenarnya ini disebabkan mitos yang beredar kalau kita memanggil nama teman kita dengan nama yang sebenarnya percaya atau tidak teman yang kita panggil tersebut bisa tersesat dan menghilang. Bermodalkan gula merah yang dibawakan oleh emak saya kamipun sampai pada shelter pertama atau bisa disebut tempat pemberhentian pertama dengan waktu kurang lebih dua jam setengah. Disini para pendaki bisa membuat camp untuk menginap terlebih dahulu apabila dirasa tidak kuat lagi ataupun cuaca yang sedang tidak memungkinkan, tapi kami tidak mengecamp di shelter pertama…bukan apa-apa coy, di shelter pertama nggak ada pemandangan sama sekali cuma ada pohon yang tinggi-tinggi, lumut, dan nyamuk yang segede gajah (hiperbola). Di shelter pertama saya dan teman-teman cuma beristirahat 10 menit dan juga mengambil persediaan air minum, menyempatkan untuk berfoto secepat mungkin karena udara sudah sangat dingin dan takut kamera digital yang kami bawa akan berembun lensanya.

Shelter kedua..disini keadaan mulai panas, dari stamina yang sangat abis terkuras karena harus melalui medan yang sangat aat berat ditambah lagi leader kami yang memaksa kami untuk tidak berlama-lama karena takutnya pas malam tiba kami belum sampai di puncak gunung. Omongan jorok, saling marah-memarahi pun berlangsung pada saat itu. Saya merasa sangat amat sekali pulang kerumah sambil tiduran memakan roti plus teh manis, tapi untunglah semua itu tidak berlangsung lama karna bisa bahaya kalau terjadi. Perjalanan dari shelter dua ke cadas sudah mulai enak, karena di sini sudah banyak sumber air yang bisa didapatkan yang sangat berbalik dengan perjalanan ke shelter kedua yang berat sekali sampe2 saya harus minum air bekas bekas pijakan. Pemandangan juga sudah banyak disini karena pohon-pohon tinggi sudah tidak ada lagi, namun udara semakin dingin karena saya dan teman-teman sudah mencapai ketinggian skitar 2500 meter DPL (dibawah permukaan laut). Tapi saya beranikan diri untuk mengambil skrinsyut dari cadas..ini dia fotonya (foto ini saya ambil pada saat turun gunung).


Jam setengah 5 sore (terhitung kurang lebih 12 jam pendakian) saya sampai dipuncak gunung dempo yang tingginya 3.159 meter DPL itu. Subhanalaah..seneng banget pokoknya melihat papan yang bertuliskan TOP DEMPO 3159 yang sengaja dipasang oleh orang. Nggak nyangka saya bisa sampe di puncak gunung Dempo yang kabaranya mempunyai medan yang sangat berat. Diakhiri adzan yang dikemunandangkan kami turun ke lembah untuk memasang tenda (di dempo untuk menginap dan membuat campnya di lembah, karena di lembah ini datarannya rata dan luas)..ini buktinya!

Digunung adalah tempat dimana saya bisa merokok (wehehehehehe), mungkin karena cuaca yang sangat dingin, rokok menjadi salah satu alat untuk mengurangi rasa dingin tersebut, saya juga sudah izin sewaktu itu dengan emak saya agar diperbolehkan merokok. Kami tidak perlu takut persediaan rokok kami abis, karena kami membawa alat pelinting rokok dan bahan2 lain lainnya seperti rokok dan vapirnya. Rokok buatan nggak sendiri nggak beda jauh mantab rasanya dibandingkan rokok Djarum Black dan juga Djarum Black Slimz. Ditenda yang pas sekali untuk delapan orang ini kami berdelapan bermain remi, saling pijetan, bersenda gurau, makan bersama dan juga minum kopi susu rame-rame.
Pagi tiba kami berfoto ria dilembah dan bersiap untuk naik ke kawah yag ditempuh cuma 15 menit dari lembah tempat kami menge-camp. Di kawah saya berdecak kagum lagi dengan kebesaran Tuhan…keren banget coy pemandangannya, dan di kawah itu pun juga saya  menangis (rasanya sewaktu itu saya kecil sekali di hadapan Tuhan). Dua jam kami di kawah untuk berfoto-foto dan membuat nama dari batu..ada yang membuat nama untuk keluarga, pacar dan namanya sendiri.


Tercatat 3 hari 3malam kami menge-camp dan selama itu juga saya tidak pernah buang air besar dan tidak pernah mandi. Yah di palembang aja pagi-pagi saya jarang mandi gara2 dingin apalagi di gunung yang dinginnya sampe api unggun yang yang ingin dibuat nggak jadi gara2 banyak serutan es yang tercipta sewaktu malam.
Hari untuk berangkat pulang kami berdelapan melakukan shalat berjemaah, saya berterimakasih karena selama perjalanan dan menginap di gunung saya dan teman-teman tidak menemukan keanehan dan kejadian yang jelek dan juga tentunya berterim kasih akan pengalaman yang sangat hebat yang pertama kali saya lakukan yakni naik gunung.

Sebelum pulang menyempatkan diri berfoto memakai seragam sekolah kebanggan kami SMA Negeri 3 Palembang, ini dipersembahkan untuk rasa terimkasih kami kepada SMA Negeri 3 untuk segalanya sampai kami bisa lulus (Pede aja, padahal waktu itu belum tau lulus apa nggak). Untuk sampai keluar dari pintu rimba kami cuma butuh waktu kurang lebih 3 jam berbanding terbalik saat naiknya yang butuh waktu 7 jam, cepet banget yah kayak Autoblackthrough yang mobilnya keren dan yakin super cepat jalannya.
Dari pintu rimba saya dan teman-teman sudah santai dan menghabiskan sisa memori untuk berfoto-foto di kebun teh. Bermalam terlebih dahulu di tempat emak lalu keesokan harinya pulang kembali kepalembang.

Sampe dipalembang saya baru bisa BAB, widiw..setengah jam coy dikamar mandi buat BAB saja. Malemnya saya beli roti bakar, nasi goreng, es campur yang tidak lain tidak bukan adalah kepinginan saya sewaktu di puncak gunung. Selesai makan semuanya saya langsung demam, keesokan harinya teman2 saya yang ikut naik gunung semuanya itu datangpun saya masih demam..parah dah pokoknya. Tapi saya senang karena bisa merasakan hal yang hebat di hidup saya..duileh!
Kesimpulan saya naik gunung itu bisa :
1.membuat mental kita bertambah
2.mendapatkan pemandangan dan pengalaman yang luar biasa.
3.melihat persaudaraan yang sangat erat
4.selalu bersyukur dengan apa yang didapatkan.

Ini adalah postingan terpanjang yang pernah saya buat yang jumlah katanya kurang lebih 1400 kata. kalau bisa jujur bisa lebih deh dari 1400..hehehehehehehe!
Lestari!!!

SocialTwist Tell-a-Friend